Yang Lain Boleh Bersandiwara, Saya Apa Adanya..

Rabu, 14 Maret 2012

Softskill

Soft skill didefinisikan sebagai ”Personal and interpesonal behaviors that develop and maximize human performance (e.g. coaching, team building, initiative, decision making etc.) Soft skills does not include technical skills such as financial, computing and assembly skills “. (Berthal). Softskill adalah ketrampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (termasuk dengan dirinya sendiri). Atribut soft skills, dengan demikian meliputi nilai yang dianut, motivasi, perilaku, kebiasaan, karakter dan sikap. Atribut softskills ini dimiliki oleh setiap orang dengan kadar yang berbeda-beda, dipengaruhi oleh kebiasaan berfikir, berkata, bertindak dan bersikap. Namun, atribut ini dapat berubah jika yang bersangkutan mau merubahnya dengan cara berlatih membiasakan diri dengan hal-hal yang baru.
Penulis buku-buku serial manajemen diri, Aribowo, membagi soft skills atau people skills menjadi dua bagian, yaitu intrapersonal skills dan interpersonal skills. Intrapersonal skills adalah keterampilan seseorang dalam ”mengatur” diri sendiri. Intrapersonal skills sebaiknya dibenahi terlebih dahulu sebelum seseorang mulai berhubungan dengan orang lain. Adapun Interpersonal skills adalah keterampilan seseorang yang diperlukan dalam berhubungan dengan orang lain. Dua jenis keterampilan tersebut dirinci sebagai berikut:
Intrapersonal Skill
• Transforming Character
• Transforming Beliefs
• Change management
• Stress management
• Time management
• Creative thinking processes
• Goal setting & life purpose
• Accelerated learning techniques
Interpersonal Skill
• Communication skills
• Relationship building
• Motivation skills
• Leadership skills
• Self-marketing skills
• Negotiation skills
• Presentation skills
• Public speaking skills

Sumber dan Referensi:
http://hafismuaddab.wordpress.com/2010/02/13/pengertian-soft-skill-dan-hard-skill/

Kesalahan Dalam Penalaran

Dari pembahasan sebelumnya kita telah mengetahui apa itu penalaran dan metode penalaran. Sekarang kita akan membahas mengenai kesalahan dalam penalaran, mungkin salah nalar dapat mengurangi kita dalam mengambil keputusan. Hal ini terjadi karena ada kesalahan-kesalahan pada cara penarikan kesimpulan. Salah nalar lebih dari kesalahan karena gagasan, struktur kalimat, dan dorongan emosi.
Salah nalar ada dua macam :
1. Salah nalar induktif, berupa :
a. Kesalahan karea generalisasi yang terlalu luas,
b. Kesalahan penilaian hubungan sebab-akibat,
c. Kesalahan anologi.
2. Kesalahan deduktif :
a. Kesalahan pada premis mayor tidak dibatasi,
b. Kesalahan karena adanya term keempat,
c. Kesalahan karena kesimpulan terlalu luas/tidak dibatasi, dan
d. Kesalahan karena adanya dua premis negatif.
Dalam ucapan atau tulisan kerap kali kita dapati pernyataan yang mengandung kesalahan. Ada kesalahan yang terjadi secara tak sadar karena kelelahan atau kondisi mental yang kurang menyenangkan, seperti salah ucap atau saqlah tulis. Gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliruu, atau cacat disebut sebagai salah nalar. Dan berikut ini adalah kesalahan nalar yang berhubungan dengan induktif, yaitu :
1. Generelisasi terlalu luas
Ex : perekonomian Indonesia sangat berkembang
2. Anologi yang salah
Ex : Ayah tono, seorang penjual batik, yang dapat menjual dengan harga terjangkau. Oleh sebab itu, ayah rini seorang penjual batik tentu dapat menjual dengan harga yang lebih terjangkau.
Bahkan ada juga jenis-jenis salah nalar
1. Deduksi yang salah : Simpulan dari suatu silogisme dengan diawali premis yang salah atau tidak memenuhi persyaratan.
2. Generelasasi terlalu luas, : Salah nalar ini disebabkan oleh jumlah premis yang mendukung generelasasi itu sehingga simpulan yang diambil menjadi salah.
3. Pemilihan terbatas pada dua alternatif, : Salah nalar ini dilandasi oleh penalaran alternatif yang tidak tepat dengan pemilihan jawaban yang ada.
4. Penyebab salah nalar, : salah nalar ini disebabkan oleh kesalahan menilai seseuatu sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran maksud.
5. Anologi yang salah, : salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yanglain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian pada segi yang lain
6. Argumentasi bidik orang, : salah nalar jenis ini disebabkan oleh sikap menghubungkan sifat seseorang dengan tugas yang diembannya.
Kesimpulan :
Jadi, maksud dari penalaran adalah untuk menemukan kebenaran. Dan kebenaran dapat dicapai jika syarat-syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
Refrensi :
1. :p:id.wikipidia.org/wiki/penalaran
2. ;p://wartawarga.gunadara.ac.id/2011/04/penalaran-induktif-dan –salah-nalar.html
3. Bebekkuilfa.blogspot.com/2012/02/kesalahan-dalam-penalaran-tugas-3.html

Metode Penalaran

Metode induktif

Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum.
Hukum yang disimpulkan dari fenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti.
Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.


Paragraf Induktif
Paragraf induktif adalah paragraf yang dimulai dengan menyebutkan peristiwa-peristiwa yang khusus, untuk menuju kepada kesimpulan umum, yang mencakup semua peristiwa khusus di atas.

Ciri-ciri Paragraf Induktif
- Terlebih dahulu menyebutkan peristiwa-peristiwa khusus
- Kemudian, menarik kesimpulan berdasarkan peristiwa-peristiwa khusus
- Kesimpulan terdapat di akhir paragraf
- Menemukan Kalimat Utama, Gagasan Utama, Kalimat Penjelas
Kalimat utama paragraf induktif terletak di akhir paragraf
- Gagasan Utama terdapat pada kalimat utama
- Kalimat penjelas terletak sebelum kalimat utama, yakni yang mengungkapkan peristiwa-peristiwa khusus
- Kalimat penjelas merupakan kalimat yang mendukung gagasan utama

Jenis Paragraf Induktif :
1.Generalisasi
2.Analogi
3.Klasifikasi
4.Perbandingan
5.Sebab akibat

Contoh Paragraf Induktif
Setelah diadakan peninjauan ke Desa Citarum, diketahui persentase penggunaan listrik di RW 01 desa tersebut sebanyak 90%. Rumah penduduk yang telah menggunakan listrik, di RW 02 sebanyak 95%, RW 03 sebanyak 100%, dan RW 04 sebanyak 85%. Boleh dikatakan, di Desa Pekayon 92% rumah penduduk sudah menggunakan listrik.


Metode deduktif
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.

Paragraf Deduktif
Paragraf Deduktif adalah paragraf yang ide pokok atau kalimat utamanya terletak di awal paragraf dan selanjutnya di ikuti oleh kalimat kalimat penjelas untuk mendukung kalimat utama.

Contof Paragraf Deduktif
Setiap orang dilahirkan dan di besarkan di dalam lingkungan keluarga. Tak seorangpun yang tidak mengalami kehidupan di dalam keluarga. Pemeliharaan dan pembinaan seseorang anak adalah perwujudan cinta kasih kepada orang tua. Secara alamiah orang tua mempunyai rasa cinta kepada anak. Bagaimanapun keadaannya orang tua tetap akan memelihara dengan penuh kasih sayang terhadap anaknya.


Konsep dan simbol dalam penalaran
Penalaran juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.
Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.
Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.


Syarat-syarat kebenaran dalam penalaran
Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.
Sumber dan referensi:
http://merliindriati.blogspot.com/2010/03/metode-induktif-metode-berpikir.html

Definisi Penalaran

Penalaran secara literal Bahasa Inggris adalah reasoning. Berasal dari kata reason, yang secara literal berarti alasan. Berarti reasoning atau to reason adalah memberikan/memikirkan alasan.
Mungkin beberapa dari kita masih belum memahami betul apa arti penalaran. Apakah orang yang salah nalar berarti orang bodoh? Tidak. Orang salah nalar bisa terjadi karena strategem (kecohan yang bertujuan tertentu), salah nalar (reasoning fallacy), atau salah nalar karena aspek kemanusiaan. Jadi, bedakan antara penalaran dan kebodohan.
Penalaran dari aspek teoritis dapat didefinisikan sebagai proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk dan mengevaluasi suatu keyakinan terhadap pernyataan atau asersi.
Tujuan dari penalaran adalah untuk menentukan secara logis dan objektif, apakah suatu pernyataan valid (benar atau salah) sehingga pantas untuk diyakini atau dianut.
Dari definisi dan tujuan, dapat dilihat bahwa penalaran digunakan untuk mengevaluasi apakah suatu pernyataan itu dapat diyakini atau dianut. Atau kembali secara literal, kita melihat alasan (reason) dibalik suatu pernyataan.
Disini akan saya kaitkan secara langsung dengan contoh. Pemimpin teroris mengatakan bahwa orang-orang diluar dari orang golongannya adalah kafir dan halal untuk dibunuh. Kalau kita tanya ke pemimpin teroris, kenapa Pak pimpinan teroris? Jawabannya, karena tertulis bahwa yang diluar jalan kita, adalah kafir. Atau mungkin jawaban lainnya, saya ini pimpinan yang dipilih oleh kekuasaan yang lebih tinggi. Kalian bisa percaya kekuasaan tertinggi, maka kalian harusnya bisa percaya kata-kata saya.
Contoh diatas menjelaskan bahwa pemimpin teroris membuat pernyataan. Pernyataan ini digunakan untuk membentuk keyakinan. Pernyataan dari pemipin teroris beserta alasannya perlu kita kaji dengan menggunakan penalaran. Penalaran akan menentukan apakah pernyataan dari pimpinan teroris ini layak untuk kita yakini atau tidak.
Sekarang kita mulai melakukan pembahasan mengenai penalaran.
Bila dilihat dari definisi teori, maka ada 3 komponen pembentuk penalaran yaitu, pernyataan (asersi), keyakinan, dan argumen. Pernyataan merupakan masukan (input) dari penalaran. Argumen merupakan proses dari penalaran, yaitu proses saling menginferensikan pernyataan-pernyataan yang ada. Kemudian, keyakinan bahwa pernyataan konklusi valid adalah keluaran (output) dari penalaran.
Argumen merupakan serangkaian asersi beserta inferensi atau penyimpulan yang terlibat didalamnya, merupakan poin penting dalam penalaran. Argumen ini merupakan bukti rasional akan kebenaran suatu pernyataan. Berarti, argumen berfungsi untuk memelihara, membentuk, atau mengubah keyakinan.
Diatas terlihat bahwa argumen terdiri dari asersi. Asersi adalah penegasan tentang sesuatu hal atau realitas yang dinyatakan dalam bentuk kalimat atau ungkapan. Asersi ini harus dikuantifikasikan untuk membatasi asersi universal/umum menjadi spesifik dan menentukan hubungan inklusi, eksklusi, saling-isi.
Pengkuantifikasian ini adalah: sedikit, banyak, tak semua, beberapa, semua
Penyajian asersi akan lebih baik bila berdasar bentuk daripada makna. Contoh berdasar makna: Semua dosen adalah pendidik. Berdasar makna, orang akan melihat makna asersi daripada bentuknya. Contoh berdasar bentuk: semua A adalah B. Bila berdasar bentuk, A atau B kita ganti dengan apapun, asersi itu akan tetap benar.
Hubungan asersi:
Asersi inklusi: semua A adalah B, tidak semua B adalah A
Asersi ekslusi: tidak satupun A adalah B, tidak satupun B adalah A
Asersi saling isi: Beberapa B adalah A (bila menggunakan diagram venn, akan lebih terlihat bahwa Ada himpunan B dan A, dimana ada potongan antara B dan A)
Bila menggunakan himpunan, maka akan terlihat perbedaan antara bersertifikat akuntan publik dan akuntan publik bersertifikat. Asersi pertama menunjukkan bahwa ada himpunan orang-orang bersertifikat, salah satunya adalah akuntan publik (himpunan bersertifikat dokter, bersertifikat dosen, bersertifikat guru, bersertifikat akuntan publik). Asersi kedua berarti ada himpunan akuntan (akuntan, akuntan publik, akuntan pajak), dan dalam akuntan publik, ada akuntan publik bersertifikat dan akuntan publik tidak bersertifikat. Disini terlihat bahwa beda asersi, maknanya bisa berbeda.
Ada beberapa jenis asersi, yaitu asumsi, hipotesis, dan pernyataan fakta. Asumsi adalah asersi yang kebenarannya tidak diketahui, tetapi kita yakini benar. Hipotesis adalah asersi yang kebenarannya belum teruji. Pernyataan adalah fakta, adalah asersi yang kebenarannya jelas diketahui. Fungsi asersi ini adalah untuk pernyataan premis atau konklusi.
Keyakinan adalah kebersediaan untuk menerima bahwa suatu asersi adalah benar tanpa memperhatikan apakah argumen valid atau tidak atau apakah asersi tersebut benar atau tidak.
Properitas keyakinan terdiri dari:
•Keadabenaran: suatu keyakinan ‘proper’ bila ada kebenarannya
•Bukan pendapat: suatu keyakinan harus bukan merupakan pendapat seorang (paling tidak pendapat seorang yang sudah disetujui bersama-sama)
•Bertingkat: ada tingkatan keyakinan (tidak yakin-yakin sekali)
•Berbias: keyakinan bisa berbeda-beda tiap orang, dipengaruhi berbagai hal (contoh, keyakinan bahwa ajaran suatu agama paling benar)
•Bermuatan nilai: keyakinan dilekati nilai-nilai (etika, moral, agama)
•Berkekuatan: kekuatan keyakinan orang.
•Veridikal: kesesuaian keyakinan dengan kenyataan.
•Berketertempaan: keyakinan harus tidak mudah untuk diubah.
Argumen terdiri dari Argumen deduktif, dan nondeduktif (induktif, analogi, sebab akibat).
Argumen deduktif adalah argumen yang simpulannya diturunkan dari serangkaian asersi umum yang disepakati atau dianggap benar (disebut premis baik major maupun minor). Pada umumnya berstruktur silogisma sehinga disebut argumen logis (logical argument).
Contoh: Semua binatang menyusui berparu-paru. Kucing adalah binatang menyusui. Kesimpulannya, kucing berparu-paru.
Kriteria kebenaran argumen deduktif ini adalah kelengkapan, kejelasan (apakah artinya jelas), validitas (konklusi mengikuti premis), keterpercayaian (premis dapat dipercaya).
Kebenaran konklusi dalam argumen deduktif adalah kebenaran logis bukan kebenaran empiris (realitas).
Kriteria kebenaran logis: semua premis benar, konklusi mengikuti semua premis, semua premis dapat diterima.
Argumen induktif adalah argumen yang simpulannya merupakan perampatan atau generalisasi dari keadaan atau pengamatan khusus sebagai premis. Generalisasi menjadikan argumen induktif merupakan argumen ada benarnya (plausible argument) bukan argumen pasti benarnya atau logis (logical argument).
Contoh argumen induktif: Kebanyakan orang Jawa Timur berani bicara. Wardoyo orang Jawa Timur. Kesimpulannya, Wardoyo berani berbicara. Argumen ini boleh jadi benar atau belum tentu benar (untuk meyakinkan, perlu dilekati confidence level, misalnya 95%).
Argumen Analogi: Argumen yang menurunkan konklusi atas dasar kemiripan karakteristik, pola, fungsi, atau hubungan unsur suatu objek yang disebutkan dalam asersi. Kemiripan ini merupakan hubungan konseptual bukan hubungan fisis atau keidentikan. Analogi ini memiliki kelemahan, karena bagaimanapun juga apa yang dianalogikan memiliki banyak kelemahan. Perbedaan yang melemahkan konklusi sering disembunyikan, padahal perbedaan sering lebih dominan daripada kemiripan.
Argumen Sebab Akibat: Argumen untuk mendukung bahwa perubahan faktor tertentu disebabkan oleh faktor yang lain. Kriteria penyebaban: Faktor sebab bervariasi dengan faktor akibat (efek), faktor sebab terjadi sebelum atau mendahului faktor akibat, tidak ada faktor lain selain faktor sebab yang diidenfikasi.
Kecohan (Fallacy)
Keyakinan semu atau keliru akibat orang terbujuk oleh suatu argumen yang mengandung catat (faulty) atau tidak valid. Orang dapat terkecoh akibat taktik membujuk selain dengan argumen yang valid.
Telah disinggung diatas, bahwa orang dapat mengecoh atau terkecoh karena: Strategem (kecohan yang bertujuan), salah nalar (reasoning fallacy), aspek manusia dalam berargumen.
Kecohan karena strategem:
•Persuasi taklangsung: strategem untuk meyakinkan seseorang akan kebenaran pernyataan bukan melalui argumen atau penalaran, tapimelalui cara-cara yang tidak berkaitan dengan validitas argumen. Contohnya dibidang periklanan. Untuk membujuk orang membeli produk, orang tidak diberi argumen mengapa produk itu berkualitas, tapi ditunjuki bahwa selebritis yang menggunakan produk itu.
•Membidik orangnya: strategem ini digunakan untuk melemahkan posisi atau pernyataan dengan menghubungkan pernyataan atau argumen dengan pribadi orang. Jadi yang dilawan orangnya, bukan argumennya. Taktik ini disebut argumentum ad hominem. Contohnya: Jangan menggunakan kurikulum itu karena yang mengembangkan adalah pengelola lama. (bukan permasalahan di kurikulumnya yang difokuskan, tapi orang yang mengembangkannya).
•Menyampingkan masalah: Strategem ini dilakukan dengan cara mengajukan argumen yang tidak bertumpu pada amsalah pokok atau dengan cara mengalihkan masalah ke masalah lain. Penyampingan masalah ini dilakukan dengan memberi penjelasan yang tidak menjawab masalah. Contohnya: Pembenahan istilah akuntansi tidak perlu dilakukan, karena dalam akuntansi yang penting kita tahu maksudnya.
•Misrepresentasi: Strategem digunakan biasanya untuk menyanggah atau menjatuhkan posisi lawan, dengan memutarbalikan atau menyembunyikan fakta baik secara halus maupun terang-terangan. Contohnya, Orang dari Partai A mengajukan argumen untuk mendukung kebijakan pemerintah yaitu, mengurangi anggaran pertahanan dan meningkatkan anggaran pendidikan. Lawan politiknya menyanggah dan menuduh bahwa Orang dari partai A ingin menghancurkan kekuatan militer negara.
•Imbauan cacah: Strategem ini digunakan untuk mendukung posisi bahwa banyak orang melakukan apa yang dikandung posisi tersebut. Sebagai contoh, suatu kelompok memegang posisi untuk membolehkan penaikan harga karena rekanan yang lain juga melakukan itu. Agar tidak terkecoh, orang harus memegang prinsip bahwa, suatu hal tidak menjadi benar lantaran banyak orang yang melakukannya. Contoh, banyak orang melakukan korupsi tidak membuat korupsi menjadi benar.
•Imbauan autoritas: Strategem ini digunakan untuk mendukung posisi dengan menggunakan autoritas. Dengan imbauan autoritas, orang berusaha meningkatkan daya bujuk suatu posisi dengan menunjukkan bahwa posisi tersebut dipegang oleh orang yang mempunyai autoritas dalam masalah bersangkutan tanpa menunjukkan bagaimana autoritas bernalar. Bila autoritas dan penalarannya memang layak , orang akan terbujuk ke arah yang benar. Tapi kalau autoritas dijadikan alat membujuk, maka kecohan yang terjadi. Contoh: Rakyat diminta untuk mengikuti kebijakan baru, karena yang membuat kebijakan adalah pemerintah. Contoh lain: menonjolkan jabatan dalam berargumen. Agar tidak terkecoh dalam strategem, beberapa prinsip diajukan Nickerson berikut dapat dijadikan dasar mengembangkan argumen atau penalaran:
• The fact that an authoritative person holds a particular view does not make that view correct.
• The fact that a highly knowledgeable individual holds a certain belief with respect to his particular area of knowledge should carry some weight.
• A belief is not necessarily right because it is held by an expert.
•Imbauan tradisi: Orang melakukan atau meyakini sesuatu karena begitulah yang dilakukan sejak lama. Strategem ini salah karena bisa saja ada cara baru yang lebih baik (secara rasional atau praktis). Contoh: sejak dulu kita sudah menggunakan istilah beban, kenapa harus diubah.
•Dilema semu: adalah taktik seseorang untuk mengaburkan argumen dengan cara menyajikan gagasannya dan satu alternatif lain kemudian mengkarakterisasi alternatif lain sangat jelek, merugikan, atau mengerikan sehingga tidak ada cara lain kecuali menerima apa yang diusulkan. Contohnya: “Kita harus menyetujui amandemen ini atau negara kita akan hancur.”
Dasar pikirannya adalah negara kita tidak boleh hancur, dan simpulannya maka kita harus menyetujui amandemen. Kecohan terjadi karena seakan-akan hanya ada dua pilihan, padahal kenyataanya ada beberapa alternatif lain yang lebih valid.
•Imbauan emosi: Daya bujuk argumen dicapai dengan cara membaurkan emosi dengan nalar (disebut confusing emotion with reason atau motive in place of support). Dengan taktik ini, emosi orang yang dituju diagitasi sehingga dia merasa tidak enak untuk tidak menerima argumen atau keyakinan. Dua strategem yang dapat digunakan untuk mencapai hal ini adalah imbauan belas kasih (appeal to pity) dan imabuan tekanan/kekuasaan (appeal to force).
Contoh imbauan belas kasih: orang memaksa kita untuk menyetujui sesuatu dengan menangis, menyatakan kalau kita tidak setuju dia akan menderita, atau menunjukkan penderitaannya agar kita setuju dengan argumennya.
Contoh imabuan tekanan: orang memaksa kita untuk menyetujui sesuatu dengan ancaman, menyatakan kalau kita tidak setuju kita akan menderita, atau menunjukkan penderitaan yang akan ditanggung bila kita tidak setuju.
Selain strategem, ada kecohan karena salah nalar. Salah nalar terjadi karena:
•Menyangkal anteseden atau menegaskan konsekuen: argumen valid bila menegaskan anteseden (modus ponens), atau menyangkal konsekuen (modus pollens). Contoh: Jika saya di Semarang, maka saya di Jawa Tengah. Saya di Semarang. Maka Saya di Jawa Tengah. (Jika A, maka B. A. Maka B) -Benar karena menegaskan anteseden. Menjadi salah bila: Saya di Semarang maka Saya di Jawa Tengah. Saya di Jawa Tengah (menegaskan konsekuen), maka saya di Semarang.
•Pentaksaan: Salah nalar dapat terjadi bila ungkapan dalam premis yang satu mempunyai makna yang berbeda dengan makna ungkapan yang sama dalam premis lainnya. Contoh (Nickerson): Nothing is better than eternal happines. A ham sandwhich is better than nothing. Konlusi: A ham sandwhich is better than eternal happiness. ini salah karena nothing dalam premis mayor berarti tidak ada satupun dari himpunan objek yang memenuhi syarat sehingga kebahagiaan abadi yang terbaik. Nothing dalam premis minor berarti, tidak tersedianya anggota lain dalam himpunan yang ada didalamnya.
•Overgeneralization: Salah nalar ini sering terjadi, yaitu melekatkan karakteristik sebagian kecil anggota ke seluruh anggota himpunan secara berlebihan. Contoh sudah disebutkan dibagian atas.
Aspek manusia dalam penalaran:
•Penjelasan sederhana: Rasionalitas menuntut penjelasan yang sesuai dengan fakta. Kebutuhan akan penjelasan terhadap apa yang mengusik pikiran merupakan fondasi berkembangnya ilmu pengetahuan. Namun kadang orang cukup dibuat puas dengan penjelasan sederhana yang pertama ditawarkan sehingga dia tidak berupaya untuk mengevaluasi secara saksama kelayakan penjelasan dan membandingkannya dengan penjelasan alternatif. Dengan kata lain, orang menjadi tidak kritis dalam menerima penjelasan.
•Kepentingan mengalahkan nalar: Hambatan untuk bernalar sering muncul akibat orang punya kepentingan tertentu yang harus dipertahankan. Kepentingan sering memaksa orang untuk memihak suatu posisi (keputusan) meskipun posisi (keputusan) tersebut sangat lemah dari segi argumen.
Dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi kepentingan untuk hidup (mendapatkan uang, kekuasaan, dan jabatan) digunakan untuk menghambat penalaran.
Dalam dunia akademik dan ilmiah, kepentingan untuk menjaga harga diri individual atau kelompok (walaupun semu) dapat menyebabkan orang (akademisi atau ilmuwan) berbuat yang tidak masuk akal.
Kebebasan akademik merupakan ciri penting lingkungan akademik yang kondusif untuk pengembangan pengetahuan dan profesi. Kebebasan akademik harus diartikan sebagai kebebasan untuk berbeda pendapat secara akademik yang memungkinkan akademisi berpendapat seacara terbuka. Sikap akademisi yang patut dihargai adalah kebersediaan untuk berargumen.
Sikap ilmiah menuntut akademisi untuk berani membaca dan memahami gagasan alternatif dan, kalau gagasan tersebut valid dan menuju ke perbaikan, bersedia untuk membawanya, bukan mengisolasinya.
keberanian dan kebersediaan seperti ini merupakan suatu ciri sikap ilmiah dan akademik yang sangat terpuji (respected).
Ini tidak berarti bahwa akademisi harus selalu setuju dengan suatu gagasan. Ketidaksetujuan dengan suatu gagasan (setelah berani membaca) merupakan sikap ilmiah asal dilandasi argumen yang bernalar dan valid.
Ketidakberanian dan ketidakbersediaan itulah yang merupakan sikap tidak ilmiah (akademik).
Sikap pakar dan akademisi yang tidak masuk akal tersebut, yang sering disebut sebagai sikap insulting the intelligence.
•Sindrom tes klinis: Ini menggambarkan bahwa seseorang yang merasa (bahkan yakin) bahwa terdapat ketidakberesan dalam tubuhnya dan dia juga tahu benar apa yang terjadi karena pengetahuannya tentang suatu penyakit. tetapi dia tidak berani untuk memeriksakan diri dan menjalani tes klinis karena takut bahwa dugaannya benar. Akhirnya orang ini tidak memeriksakan diri dan menganggap dirinya sehat.
•Merasionalkan daripada menalar: Bila terjadi keberpihakan, kepentingan, atau ketakritisan, orang terlanjur mengambil posisi dan ternyata posisi tersebut salah atau lemah, orang ada kalanya berusaha untuk mencari-cari justifikasi untuk membenarkan posisinya. Dalam hal ini, tujuan diskusi bukan lagi untuk mencari kebenaran atau validitas, tetapi untuk membela diri atau menutupi rasa malu. Bila hal ini terjadi, orang tersebut sebenarnya tidak lagi menalar (to reason) tetapi merasionalkan (to rationalize).

Sumber dan referensi :
http://rogonyowosukmo.wordpress.com/2009/12/04/apa-itu-penalaran-reasoning/

Minggu, 20 November 2011

TUGAS KE 2 BAHASA INDONESIA

1. A.) Jelaskan perbedaan topic, tema dan judul!
jawab : - Topik berasal dari bahasa Yunani yaitu “Topoi” yang berati tempat dalam tulis menulis,pembicaraan atau sesuatu yang menjadi landasan penulisan.maka dari itu topik merupakan Topic merupakan salah satu dalam wacana percakapan. Menurut Howe opik ituvunsure yang penting merupakan syarat terbentuknya wacana percakapan.
-Tema merupakan amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya atau Dalam karang mengarang, tema juga adalah pokok pikiran yang mendasari karangan yang akan disusun. Dalam tulis menulis, tema adalah pokok bahasan yang akan disusun menjadi tulisan. Tema ini yang akan menentukan arah tulisan atau tujuan dari penulisan artikel itu. Menentukan tema berarti menentukan apa masalah sebenarmya yang akan ditulis atau diuraikan
• Judul adalah sebuah nama yang dipakai untuk buku, bab dalam buku,atau kepala berita.Dalam artikel judul sering disebut juga kepala tulisan. Judul adalah lukisan singkat suatu artikel atau disebut juga miniatur isi bahasan. Judul hendaknya dibuat dengan ringkas, padat dan menarik. Judul artikel diusahakan tidak lebih dari lima kata, tetapi cukup menggambarkan isi bahasan.
Syarat-syarat topik : 1). Menarik untuk ditulis dan dibaca. Topik yang menarik bagi penulis akan meningkatkan kegairahan dalam mengembangkan penulisannya, dan bagi pembaca akan mengundang minat untuk membacanya. 2). Dikuasai dengan baik oleh penulis minimal prinsip-prinsip ilmiah. Untuk menghasilkan tulisan yang baik, penulis harus menguasai teori-teori (data sekunder), data di lapangan (data primer). Selain itu, penulis juga harus menguasai waktu, biaya, metode pembahasan, bahasa yang digunakan, dan bidang ilmu.
Syarat-syarat tema : 1)Tema harus menarik perhatian penulis. 2)Tema harus diketahui/dipahami penulis. 3)Tema harus Bermanfaat. 4)Tema yang dipilih harus berada disekitar kita. 5)Tema yang dipilih harus yang menarik. 6)Tema yang dipilih ruang lingkup sempit dan terbatas. 7)Tema yang dipilih memiliki data dan fakta yang obyektif. 8)Tema yang dipilih harus memiliki sumber acuan.
Syarat-syarat judul : • Harus bebentuk frasa, • Tanpa ada singkatan atau akronim, • Awal kata harus huruf kapital kecuali preposisi dan konjungsi, • Tanpa tanda baca di akhir judul karangan, • Menarik perhatian, • Logis, • Sesuai dengan isi • Judul harus:.asli,relevan,provakitif,singkat
B.) Bagaimana cara membatasi topic ?
Cara membatasi sebuah topik dapat dilakukan dengan mempergunakan cara sebagai berikut:
Tetapkanlah topik yang akan digarap dalam kedudukan sentral.
Mengajukan pertanyaan, apakah topik yang berada dalam kedudukan
sentral itu masih dapat dirinci lebih lanjut? Bila dapat, tempatkanlah rincian itu sekitar lingkaran topik pertama tadi.
Tetapkanlah dari rincian tadi mana yang akan dipilih.
Mengajukan pertanyaan apakah sektor tadi masih dapat dirinci lebih lanjut atau tidak.
Dengan demikian dilakukan secara berulang sampai diperoleh sebuah topik yang sangat khusus dan cukup sempit.

2. A.) Sebutkan dan jelaskan manfaat Outline!
Kerangka karangan /outline merupakan rencana penulisan yang memuat garis- garis besar dari suatu karangan yang akan digarap, dan merupakan rangkaian ide-ide yang disusun secara sistematis, logis, jelas, terstruktur dan teratur.
Macam-macam Kerangka Karangan/Outline: a. Berdasar Sifat Rinciannya: 1) Kerangka Karangan Sementara / Non-formal: cukup terdiri atas dua tingkat, dengan alasan: a) topiknya tidak kompleks b) akan segera digarap 2) Kerangka Karangan Formal: terdiri atas tiga tingkat, dengan alasan: a) topiknya sangat kompleks b) topiknya sederhana, tetapi tidak segera digarap Cara kerjanya: Rumuskan tema berupa tesis , kemudian pecah-pecah menjadi sub-ordinasi yang dikembangkan untuk menjelaskan gagasan utama. Tiap sub-ordinasi dapat dirinci lebih lanjut. Tesis yang dirinci minimal tiga tingkat sudah dapat disebut Kerangka Karangan Formal. b. Berdasar perumusan teksnya 1) Kerangka Kalimat 2) Kerangka Topik 3) Gabungan antara Kerangka Kalimat dan Kerangka Topik
Manfaat Outline:
Untuk menjamin penulisan bersifat konseptual, menyeluruh, dan terarah.
Untuk menyusun karangan secara teratur. Kerangka karangan membantu penulis untuk melihat gagasan-gagasan dalam sekilas pandang, sehingga dapat dipastikan apakah susunan dan hubungan timbal-balik antara gagasan-gagasan itu sudah tepat, apakah gagasan-gagasan itu sudah disajikan dengan baik, harmonis dalam perimbangannya.
Memudahkan penulis menciptakan klimaks yang berbeda-beda. Setiap tulisan dikembangkan menuju ke satu klimaks tertentu. Namun sebelum mencapai klimaks dari seluruh karangan itu, terdapat sejumlah bagian yang berbeda-beda kepentingannya terhadap klimaks utama tadi. Tiap bagian juga mempunyai klimaks tersendiri dalam bagiannya. Supaya pembaca dapat terpikat secara terus menerus menuju kepada klimaks utama, maka susunan bagian-bagian harus diatur pula sekian macam sehingga tercapai klimaks yang berbeda-beda yang dapat memikat perhatian pembaca.
Menghindari penggarapan topik dua kali atau lebih. Ada kemungkinan suatu bagian perlu dibicarakan dua kali atau lebih, sesuai kebutuhan tiap bagian dari karangan itu. Namun penggarapan suatu topik sampai dua kali atau lebih tidak perlu, karena hal itu hanya akan membawa efek yang tidak menguntungkan; misalnya, bila penulis tidak sadar betul maka pendapatnya mengenai topik yang sama pada bagian terdahulu berbeda dengan yang diutarakan pada bagian kemudian, atau bahkan bertentangan satu sama lain. Hal yang demikian ini tidak dapat diterima. Di pihak lain menggarap suatu topik lebih dari satu kali hanya membuang waktu, tenaga, dan materi. Kalau memang tidak dapat dihindari maka penulis harus menetapkan pada bagian mana topik tadi akan diuraikan, sedangkan di bagian lain cukup dengan menunjuk kepada bagian tadi.
Memudahkan penulis mencari materi pembantu. Dengan mempergunakan rincian-rincian dalam kerangka karangan penulis akan dengan mudah mencari data-data atau fakta-fakta untuk memperjelas atau membuktikan pendapatnya. Atau data dan fakta yang telah dikumpulkan itu akan dipergunakan di bagian mana dalam karangannya itu. Bila seorang pembaca kelak menghadapi karangan yang telah siap, ia dapat menyusutkan kembali kepada kerangka karangan yang hakekatnya sama dengan apa yang telah dibuat penggarapnya. Dengan penyusutan ini pembaca akan melihat wujud, gagasan, struktur, serta nilai umum dari karangan itu. Kerangka karangan merupakan miniatur atau prototipe dari sebuah karangan. Dalam bentuk miniatur ini karangan tersebut dapat diteliti, dianalisis, dan dipertimbangkan secara menyelurih, bukan secara terlepas-lepas.
B.) Bagaimana langkah-langkah membuat Outline?
Langkah-langkah menyusun Kerangka Karangan/outline:
A.) Pola Alamiah Susunan atau pola alamiah adalah suatu urutan unit-unit kerangka karangan sesuai dengan keadaan yang nyata di alam. Sebab itu susunan alamiah dapat dibagi lagi menjadi tiga bagian utama, yaitu berdasarkan urutan ruang, urutan waktu, dan urutan topik yang ada. B.) Pola Logis Pola logis berdasar urutan: 1) klimaks – anti klimaks 2) umum – khusus 3) sebab – akibat 4) proses 5) dan lain-lain.

3. A.) Sebutkan dan Jelaskan Unsur-unsur alinea!
UNSUR-UNSUR PARAGRAF: 1. Topik/ tema/ gagasan utama/ gagasan inti/ pokok pikiran 2. Kalimat utama atau pikiran utama yang menjadi dasar pengembangan sebuah paragraf. Gagasan atau pikiran utama itu dapat dikembangkan ke dalam kalimat. Kalimat yang mengandung pikiran utama disebut kalimat utama. Keberadaan kalimat utama itu bisa di awal paragraf, di akhir paragraf maupun diawal dan diakhir paragraf. 3. Kalimat penjelas gagasan yang fungsinya menjelaskan gagasan utma. Gasasan penjelas biasanya dinyatakan ke dalam beberapa kalimat. Kalimat yang mengandung gagasan penjelas disebut kalimat penjelas. 4. Judul (kepala karangan). *Syarat suatu judul: a. Provokatif (menarik) b. Berbentuk frase c. Relevan (sesuai dengan isi) d. Logis e. Spesifik
B.) Jelaskan ciri-ciri kalimat utama dan kalimat penjelas!
Kalimat Utama atau Kalimat Pokok adalah kalimat yang digunakan sebagai tempat menuangkan pokok pikiran atau gagasan utama. Pokok pikiran atau gagasan utama sama dengan ide pokok gagasan pokok.
Ciri-ciri kalimat utama:
a.Biasanya diletakkan pada awal paragraph, tetapi bisa juga diletakkan pada bagian akhir paragraph.
b.Suatu kalimat berisikan kalimat utama ditandai oleh kata-kata kunci seperti:
Sebagai kesimpulan….
Yang penting….
Jadi, …..
Dengan demikian…
c. Biasanya berisi suatu pernyataan yang nantinya akan dijelaskan lebih lanjut oleh kalimat penjelas.
2. Kalimat Penjelas adalah kalimat yang berisi gagasan yang mendukung atau menjadi penjelas kalimat utama. Kalimat-kalimat penjelas tersebut dalam setiap paragraph harus membentuk satu kesatuan gagasan.
Ciri-ciri kalimat penjelas:
a. Berisi penjelasan seperti:
Contoh-contoh
Rincian
Keterangan
Dll.
b. Kalimat penjelas biasanya memerlukan kalimat penghubung.
c. Selalu menghubungkan kalimat-kalimat dalam paragraph.
C.) Sebutkan dan jelaskan macam-macam alinea!
Macam-macam paragraf atau alinea antara lain: 1. Eksposisi Berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi. 2. Argumentasi Bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/ kesimpulan dengan data/ fakta konsep sebagai alasan/ bukti. 3. Deskripsi Berisi gambaran mengenai suatu hal atau keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, merasa atau mendengar hal tersebut. 4. Persuasi Karangan ini bertujuan mempengaruhi emosi pembaca agar berbuat sesuatu. 5. Narasi Karangan ini berisi rangkaian peristiwa yang susul-menyusul, sehingga membentuk alur cerita. Karangan jenis ini sebagian besar berdasarkan imajinasi.