Hard skill merupakan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya. Atau bisa disebut juga skill yang berdasarkan bidang yang betul-betul dia menjadi pakar di dalamnya. contohnya jika dia adalah seorang ekonom, maka dia seharusnya menguasai konsep-konsep atau teori-toeri tentang ilmu ekonomi serta dapat melakukan analisa terhadap persoalan-persoalan yang menjadi kepakaran dia.
Hardskill sudah pasti dibutuhkan untuk bisa bekerja dengan tepat tujuan. Namun adalah softskill yang bisa membuat seseorang bisa betul-betul bekerja dan dipertimbangkan untuk naik ke tingkatan karir atau jabatan lebih tinggi. Ini karena softskill menentukan kemampuan seseorang dalam menyikapi pekerjaannya, organisasinya, rekan kerjanya, dan para client-nya. Softskill tidak hanya terbatas pada lingkup pekerjaan, namun juga sampai pada kehidupan sosial dan berumahtangga. Softskill tidak hanya berkisar pada keterampilan komunikasi, namun juga melingkupi kemampuan untuk mengelola stres, kemampuan untuk mengelola disiplin pribadi, dan kemampuan untuk memecahkan masalah.
Seringkali softskill ini kurang mendapat perhatian. Seorang siswa/mahasiswa tidak hanya sekedar perlu memiliki keterampilan teknis terkait pekerjaan yang diidamkan dan diincarnya. Kita tak boleh lupa bahwa di saat bekerja nanti kita juga akan bekerja dalam tim, harus melaporkan kerja kita kepada seseorang, menghadapi tekanan kerja, melakukan presentasi, mengirimkan pesan email secara sopan, dan lain sebagainya. Untuk itu, maka keterampilan teknis (hardskill) tidaklah cukup. Hardskill sangatlah penting, namun belumlah cukup untuk mengantar seseorang menuju sukses.
Sumber dan Referensi :
http://www.edunimasi.com/pentingnya-hardskill-dan-softskill.html#.T2DE8HkUWSo
http://rosianarindika.blogspot.com/2010/09/pengertian-soft-skill-dan-hard-skill.html
http://artikelbisnispemula.blogspot.com/2009/11/apa-itu-hard-skill-dan-soft-skill.html
Rabu, 14 Maret 2012
Softskill
Soft skill didefinisikan sebagai ”Personal and interpesonal behaviors that develop and maximize human performance (e.g. coaching, team building, initiative, decision making etc.) Soft skills does not include technical skills such as financial, computing and assembly skills “. (Berthal). Softskill adalah ketrampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (termasuk dengan dirinya sendiri). Atribut soft skills, dengan demikian meliputi nilai yang dianut, motivasi, perilaku, kebiasaan, karakter dan sikap. Atribut softskills ini dimiliki oleh setiap orang dengan kadar yang berbeda-beda, dipengaruhi oleh kebiasaan berfikir, berkata, bertindak dan bersikap. Namun, atribut ini dapat berubah jika yang bersangkutan mau merubahnya dengan cara berlatih membiasakan diri dengan hal-hal yang baru.
Penulis buku-buku serial manajemen diri, Aribowo, membagi soft skills atau people skills menjadi dua bagian, yaitu intrapersonal skills dan interpersonal skills. Intrapersonal skills adalah keterampilan seseorang dalam ”mengatur” diri sendiri. Intrapersonal skills sebaiknya dibenahi terlebih dahulu sebelum seseorang mulai berhubungan dengan orang lain. Adapun Interpersonal skills adalah keterampilan seseorang yang diperlukan dalam berhubungan dengan orang lain. Dua jenis keterampilan tersebut dirinci sebagai berikut:
Intrapersonal Skill
• Transforming Character
• Transforming Beliefs
• Change management
• Stress management
• Time management
• Creative thinking processes
• Goal setting & life purpose
• Accelerated learning techniques
Interpersonal Skill
• Communication skills
• Relationship building
• Motivation skills
• Leadership skills
• Self-marketing skills
• Negotiation skills
• Presentation skills
• Public speaking skills
Sumber dan Referensi:
http://hafismuaddab.wordpress.com/2010/02/13/pengertian-soft-skill-dan-hard-skill/
Penulis buku-buku serial manajemen diri, Aribowo, membagi soft skills atau people skills menjadi dua bagian, yaitu intrapersonal skills dan interpersonal skills. Intrapersonal skills adalah keterampilan seseorang dalam ”mengatur” diri sendiri. Intrapersonal skills sebaiknya dibenahi terlebih dahulu sebelum seseorang mulai berhubungan dengan orang lain. Adapun Interpersonal skills adalah keterampilan seseorang yang diperlukan dalam berhubungan dengan orang lain. Dua jenis keterampilan tersebut dirinci sebagai berikut:
Intrapersonal Skill
• Transforming Character
• Transforming Beliefs
• Change management
• Stress management
• Time management
• Creative thinking processes
• Goal setting & life purpose
• Accelerated learning techniques
Interpersonal Skill
• Communication skills
• Relationship building
• Motivation skills
• Leadership skills
• Self-marketing skills
• Negotiation skills
• Presentation skills
• Public speaking skills
Sumber dan Referensi:
http://hafismuaddab.wordpress.com/2010/02/13/pengertian-soft-skill-dan-hard-skill/
Kesalahan Dalam Penalaran
Dari pembahasan sebelumnya kita telah mengetahui apa itu penalaran dan metode penalaran. Sekarang kita akan membahas mengenai kesalahan dalam penalaran, mungkin salah nalar dapat mengurangi kita dalam mengambil keputusan. Hal ini terjadi karena ada kesalahan-kesalahan pada cara penarikan kesimpulan. Salah nalar lebih dari kesalahan karena gagasan, struktur kalimat, dan dorongan emosi.
Salah nalar ada dua macam :
1. Salah nalar induktif, berupa :
a. Kesalahan karea generalisasi yang terlalu luas,
b. Kesalahan penilaian hubungan sebab-akibat,
c. Kesalahan anologi.
2. Kesalahan deduktif :
a. Kesalahan pada premis mayor tidak dibatasi,
b. Kesalahan karena adanya term keempat,
c. Kesalahan karena kesimpulan terlalu luas/tidak dibatasi, dan
d. Kesalahan karena adanya dua premis negatif.
Dalam ucapan atau tulisan kerap kali kita dapati pernyataan yang mengandung kesalahan. Ada kesalahan yang terjadi secara tak sadar karena kelelahan atau kondisi mental yang kurang menyenangkan, seperti salah ucap atau saqlah tulis. Gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliruu, atau cacat disebut sebagai salah nalar. Dan berikut ini adalah kesalahan nalar yang berhubungan dengan induktif, yaitu :
1. Generelisasi terlalu luas
Ex : perekonomian Indonesia sangat berkembang
2. Anologi yang salah
Ex : Ayah tono, seorang penjual batik, yang dapat menjual dengan harga terjangkau. Oleh sebab itu, ayah rini seorang penjual batik tentu dapat menjual dengan harga yang lebih terjangkau.
Bahkan ada juga jenis-jenis salah nalar
1. Deduksi yang salah : Simpulan dari suatu silogisme dengan diawali premis yang salah atau tidak memenuhi persyaratan.
2. Generelasasi terlalu luas, : Salah nalar ini disebabkan oleh jumlah premis yang mendukung generelasasi itu sehingga simpulan yang diambil menjadi salah.
3. Pemilihan terbatas pada dua alternatif, : Salah nalar ini dilandasi oleh penalaran alternatif yang tidak tepat dengan pemilihan jawaban yang ada.
4. Penyebab salah nalar, : salah nalar ini disebabkan oleh kesalahan menilai seseuatu sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran maksud.
5. Anologi yang salah, : salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yanglain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian pada segi yang lain
6. Argumentasi bidik orang, : salah nalar jenis ini disebabkan oleh sikap menghubungkan sifat seseorang dengan tugas yang diembannya.
Kesimpulan :
Jadi, maksud dari penalaran adalah untuk menemukan kebenaran. Dan kebenaran dapat dicapai jika syarat-syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
Refrensi :
1. :p:id.wikipidia.org/wiki/penalaran
2. ;p://wartawarga.gunadara.ac.id/2011/04/penalaran-induktif-dan –salah-nalar.html
3. Bebekkuilfa.blogspot.com/2012/02/kesalahan-dalam-penalaran-tugas-3.html
Salah nalar ada dua macam :
1. Salah nalar induktif, berupa :
a. Kesalahan karea generalisasi yang terlalu luas,
b. Kesalahan penilaian hubungan sebab-akibat,
c. Kesalahan anologi.
2. Kesalahan deduktif :
a. Kesalahan pada premis mayor tidak dibatasi,
b. Kesalahan karena adanya term keempat,
c. Kesalahan karena kesimpulan terlalu luas/tidak dibatasi, dan
d. Kesalahan karena adanya dua premis negatif.
Dalam ucapan atau tulisan kerap kali kita dapati pernyataan yang mengandung kesalahan. Ada kesalahan yang terjadi secara tak sadar karena kelelahan atau kondisi mental yang kurang menyenangkan, seperti salah ucap atau saqlah tulis. Gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliruu, atau cacat disebut sebagai salah nalar. Dan berikut ini adalah kesalahan nalar yang berhubungan dengan induktif, yaitu :
1. Generelisasi terlalu luas
Ex : perekonomian Indonesia sangat berkembang
2. Anologi yang salah
Ex : Ayah tono, seorang penjual batik, yang dapat menjual dengan harga terjangkau. Oleh sebab itu, ayah rini seorang penjual batik tentu dapat menjual dengan harga yang lebih terjangkau.
Bahkan ada juga jenis-jenis salah nalar
1. Deduksi yang salah : Simpulan dari suatu silogisme dengan diawali premis yang salah atau tidak memenuhi persyaratan.
2. Generelasasi terlalu luas, : Salah nalar ini disebabkan oleh jumlah premis yang mendukung generelasasi itu sehingga simpulan yang diambil menjadi salah.
3. Pemilihan terbatas pada dua alternatif, : Salah nalar ini dilandasi oleh penalaran alternatif yang tidak tepat dengan pemilihan jawaban yang ada.
4. Penyebab salah nalar, : salah nalar ini disebabkan oleh kesalahan menilai seseuatu sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran maksud.
5. Anologi yang salah, : salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yanglain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian pada segi yang lain
6. Argumentasi bidik orang, : salah nalar jenis ini disebabkan oleh sikap menghubungkan sifat seseorang dengan tugas yang diembannya.
Kesimpulan :
Jadi, maksud dari penalaran adalah untuk menemukan kebenaran. Dan kebenaran dapat dicapai jika syarat-syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
Refrensi :
1. :p:id.wikipidia.org/wiki/penalaran
2. ;p://wartawarga.gunadara.ac.id/2011/04/penalaran-induktif-dan –salah-nalar.html
3. Bebekkuilfa.blogspot.com/2012/02/kesalahan-dalam-penalaran-tugas-3.html
Metode Penalaran
Metode induktif
Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum.
Hukum yang disimpulkan dari fenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti.
Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.
Paragraf Induktif
Paragraf induktif adalah paragraf yang dimulai dengan menyebutkan peristiwa-peristiwa yang khusus, untuk menuju kepada kesimpulan umum, yang mencakup semua peristiwa khusus di atas.
Ciri-ciri Paragraf Induktif
- Terlebih dahulu menyebutkan peristiwa-peristiwa khusus
- Kemudian, menarik kesimpulan berdasarkan peristiwa-peristiwa khusus
- Kesimpulan terdapat di akhir paragraf
- Menemukan Kalimat Utama, Gagasan Utama, Kalimat Penjelas
Kalimat utama paragraf induktif terletak di akhir paragraf
- Gagasan Utama terdapat pada kalimat utama
- Kalimat penjelas terletak sebelum kalimat utama, yakni yang mengungkapkan peristiwa-peristiwa khusus
- Kalimat penjelas merupakan kalimat yang mendukung gagasan utama
Jenis Paragraf Induktif :
1.Generalisasi
2.Analogi
3.Klasifikasi
4.Perbandingan
5.Sebab akibat
Contoh Paragraf Induktif
Setelah diadakan peninjauan ke Desa Citarum, diketahui persentase penggunaan listrik di RW 01 desa tersebut sebanyak 90%. Rumah penduduk yang telah menggunakan listrik, di RW 02 sebanyak 95%, RW 03 sebanyak 100%, dan RW 04 sebanyak 85%. Boleh dikatakan, di Desa Pekayon 92% rumah penduduk sudah menggunakan listrik.
Metode deduktif
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Paragraf Deduktif
Paragraf Deduktif adalah paragraf yang ide pokok atau kalimat utamanya terletak di awal paragraf dan selanjutnya di ikuti oleh kalimat kalimat penjelas untuk mendukung kalimat utama.
Contof Paragraf Deduktif
Setiap orang dilahirkan dan di besarkan di dalam lingkungan keluarga. Tak seorangpun yang tidak mengalami kehidupan di dalam keluarga. Pemeliharaan dan pembinaan seseorang anak adalah perwujudan cinta kasih kepada orang tua. Secara alamiah orang tua mempunyai rasa cinta kepada anak. Bagaimanapun keadaannya orang tua tetap akan memelihara dengan penuh kasih sayang terhadap anaknya.
Konsep dan simbol dalam penalaran
Penalaran juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.
Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.
Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.
Syarat-syarat kebenaran dalam penalaran
Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.
Sumber dan referensi:
http://merliindriati.blogspot.com/2010/03/metode-induktif-metode-berpikir.html
Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum.
Hukum yang disimpulkan dari fenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti.
Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.
Paragraf Induktif
Paragraf induktif adalah paragraf yang dimulai dengan menyebutkan peristiwa-peristiwa yang khusus, untuk menuju kepada kesimpulan umum, yang mencakup semua peristiwa khusus di atas.
Ciri-ciri Paragraf Induktif
- Terlebih dahulu menyebutkan peristiwa-peristiwa khusus
- Kemudian, menarik kesimpulan berdasarkan peristiwa-peristiwa khusus
- Kesimpulan terdapat di akhir paragraf
- Menemukan Kalimat Utama, Gagasan Utama, Kalimat Penjelas
Kalimat utama paragraf induktif terletak di akhir paragraf
- Gagasan Utama terdapat pada kalimat utama
- Kalimat penjelas terletak sebelum kalimat utama, yakni yang mengungkapkan peristiwa-peristiwa khusus
- Kalimat penjelas merupakan kalimat yang mendukung gagasan utama
Jenis Paragraf Induktif :
1.Generalisasi
2.Analogi
3.Klasifikasi
4.Perbandingan
5.Sebab akibat
Contoh Paragraf Induktif
Setelah diadakan peninjauan ke Desa Citarum, diketahui persentase penggunaan listrik di RW 01 desa tersebut sebanyak 90%. Rumah penduduk yang telah menggunakan listrik, di RW 02 sebanyak 95%, RW 03 sebanyak 100%, dan RW 04 sebanyak 85%. Boleh dikatakan, di Desa Pekayon 92% rumah penduduk sudah menggunakan listrik.
Metode deduktif
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Paragraf Deduktif
Paragraf Deduktif adalah paragraf yang ide pokok atau kalimat utamanya terletak di awal paragraf dan selanjutnya di ikuti oleh kalimat kalimat penjelas untuk mendukung kalimat utama.
Contof Paragraf Deduktif
Setiap orang dilahirkan dan di besarkan di dalam lingkungan keluarga. Tak seorangpun yang tidak mengalami kehidupan di dalam keluarga. Pemeliharaan dan pembinaan seseorang anak adalah perwujudan cinta kasih kepada orang tua. Secara alamiah orang tua mempunyai rasa cinta kepada anak. Bagaimanapun keadaannya orang tua tetap akan memelihara dengan penuh kasih sayang terhadap anaknya.
Konsep dan simbol dalam penalaran
Penalaran juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.
Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.
Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.
Syarat-syarat kebenaran dalam penalaran
Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.
Sumber dan referensi:
http://merliindriati.blogspot.com/2010/03/metode-induktif-metode-berpikir.html
Definisi Penalaran
Penalaran secara literal Bahasa Inggris adalah reasoning. Berasal dari kata reason, yang secara literal berarti alasan. Berarti reasoning atau to reason adalah memberikan/memikirkan alasan.
Mungkin beberapa dari kita masih belum memahami betul apa arti penalaran. Apakah orang yang salah nalar berarti orang bodoh? Tidak. Orang salah nalar bisa terjadi karena strategem (kecohan yang bertujuan tertentu), salah nalar (reasoning fallacy), atau salah nalar karena aspek kemanusiaan. Jadi, bedakan antara penalaran dan kebodohan.
Penalaran dari aspek teoritis dapat didefinisikan sebagai proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk dan mengevaluasi suatu keyakinan terhadap pernyataan atau asersi.
Tujuan dari penalaran adalah untuk menentukan secara logis dan objektif, apakah suatu pernyataan valid (benar atau salah) sehingga pantas untuk diyakini atau dianut.
Dari definisi dan tujuan, dapat dilihat bahwa penalaran digunakan untuk mengevaluasi apakah suatu pernyataan itu dapat diyakini atau dianut. Atau kembali secara literal, kita melihat alasan (reason) dibalik suatu pernyataan.
Disini akan saya kaitkan secara langsung dengan contoh. Pemimpin teroris mengatakan bahwa orang-orang diluar dari orang golongannya adalah kafir dan halal untuk dibunuh. Kalau kita tanya ke pemimpin teroris, kenapa Pak pimpinan teroris? Jawabannya, karena tertulis bahwa yang diluar jalan kita, adalah kafir. Atau mungkin jawaban lainnya, saya ini pimpinan yang dipilih oleh kekuasaan yang lebih tinggi. Kalian bisa percaya kekuasaan tertinggi, maka kalian harusnya bisa percaya kata-kata saya.
Contoh diatas menjelaskan bahwa pemimpin teroris membuat pernyataan. Pernyataan ini digunakan untuk membentuk keyakinan. Pernyataan dari pemipin teroris beserta alasannya perlu kita kaji dengan menggunakan penalaran. Penalaran akan menentukan apakah pernyataan dari pimpinan teroris ini layak untuk kita yakini atau tidak.
Sekarang kita mulai melakukan pembahasan mengenai penalaran.
Bila dilihat dari definisi teori, maka ada 3 komponen pembentuk penalaran yaitu, pernyataan (asersi), keyakinan, dan argumen. Pernyataan merupakan masukan (input) dari penalaran. Argumen merupakan proses dari penalaran, yaitu proses saling menginferensikan pernyataan-pernyataan yang ada. Kemudian, keyakinan bahwa pernyataan konklusi valid adalah keluaran (output) dari penalaran.
Argumen merupakan serangkaian asersi beserta inferensi atau penyimpulan yang terlibat didalamnya, merupakan poin penting dalam penalaran. Argumen ini merupakan bukti rasional akan kebenaran suatu pernyataan. Berarti, argumen berfungsi untuk memelihara, membentuk, atau mengubah keyakinan.
Diatas terlihat bahwa argumen terdiri dari asersi. Asersi adalah penegasan tentang sesuatu hal atau realitas yang dinyatakan dalam bentuk kalimat atau ungkapan. Asersi ini harus dikuantifikasikan untuk membatasi asersi universal/umum menjadi spesifik dan menentukan hubungan inklusi, eksklusi, saling-isi.
Pengkuantifikasian ini adalah: sedikit, banyak, tak semua, beberapa, semua
Penyajian asersi akan lebih baik bila berdasar bentuk daripada makna. Contoh berdasar makna: Semua dosen adalah pendidik. Berdasar makna, orang akan melihat makna asersi daripada bentuknya. Contoh berdasar bentuk: semua A adalah B. Bila berdasar bentuk, A atau B kita ganti dengan apapun, asersi itu akan tetap benar.
Hubungan asersi:
Asersi inklusi: semua A adalah B, tidak semua B adalah A
Asersi ekslusi: tidak satupun A adalah B, tidak satupun B adalah A
Asersi saling isi: Beberapa B adalah A (bila menggunakan diagram venn, akan lebih terlihat bahwa Ada himpunan B dan A, dimana ada potongan antara B dan A)
Bila menggunakan himpunan, maka akan terlihat perbedaan antara bersertifikat akuntan publik dan akuntan publik bersertifikat. Asersi pertama menunjukkan bahwa ada himpunan orang-orang bersertifikat, salah satunya adalah akuntan publik (himpunan bersertifikat dokter, bersertifikat dosen, bersertifikat guru, bersertifikat akuntan publik). Asersi kedua berarti ada himpunan akuntan (akuntan, akuntan publik, akuntan pajak), dan dalam akuntan publik, ada akuntan publik bersertifikat dan akuntan publik tidak bersertifikat. Disini terlihat bahwa beda asersi, maknanya bisa berbeda.
Ada beberapa jenis asersi, yaitu asumsi, hipotesis, dan pernyataan fakta. Asumsi adalah asersi yang kebenarannya tidak diketahui, tetapi kita yakini benar. Hipotesis adalah asersi yang kebenarannya belum teruji. Pernyataan adalah fakta, adalah asersi yang kebenarannya jelas diketahui. Fungsi asersi ini adalah untuk pernyataan premis atau konklusi.
Keyakinan adalah kebersediaan untuk menerima bahwa suatu asersi adalah benar tanpa memperhatikan apakah argumen valid atau tidak atau apakah asersi tersebut benar atau tidak.
Properitas keyakinan terdiri dari:
•Keadabenaran: suatu keyakinan ‘proper’ bila ada kebenarannya
•Bukan pendapat: suatu keyakinan harus bukan merupakan pendapat seorang (paling tidak pendapat seorang yang sudah disetujui bersama-sama)
•Bertingkat: ada tingkatan keyakinan (tidak yakin-yakin sekali)
•Berbias: keyakinan bisa berbeda-beda tiap orang, dipengaruhi berbagai hal (contoh, keyakinan bahwa ajaran suatu agama paling benar)
•Bermuatan nilai: keyakinan dilekati nilai-nilai (etika, moral, agama)
•Berkekuatan: kekuatan keyakinan orang.
•Veridikal: kesesuaian keyakinan dengan kenyataan.
•Berketertempaan: keyakinan harus tidak mudah untuk diubah.
Argumen terdiri dari Argumen deduktif, dan nondeduktif (induktif, analogi, sebab akibat).
Argumen deduktif adalah argumen yang simpulannya diturunkan dari serangkaian asersi umum yang disepakati atau dianggap benar (disebut premis baik major maupun minor). Pada umumnya berstruktur silogisma sehinga disebut argumen logis (logical argument).
Contoh: Semua binatang menyusui berparu-paru. Kucing adalah binatang menyusui. Kesimpulannya, kucing berparu-paru.
Kriteria kebenaran argumen deduktif ini adalah kelengkapan, kejelasan (apakah artinya jelas), validitas (konklusi mengikuti premis), keterpercayaian (premis dapat dipercaya).
Kebenaran konklusi dalam argumen deduktif adalah kebenaran logis bukan kebenaran empiris (realitas).
Kriteria kebenaran logis: semua premis benar, konklusi mengikuti semua premis, semua premis dapat diterima.
Argumen induktif adalah argumen yang simpulannya merupakan perampatan atau generalisasi dari keadaan atau pengamatan khusus sebagai premis. Generalisasi menjadikan argumen induktif merupakan argumen ada benarnya (plausible argument) bukan argumen pasti benarnya atau logis (logical argument).
Contoh argumen induktif: Kebanyakan orang Jawa Timur berani bicara. Wardoyo orang Jawa Timur. Kesimpulannya, Wardoyo berani berbicara. Argumen ini boleh jadi benar atau belum tentu benar (untuk meyakinkan, perlu dilekati confidence level, misalnya 95%).
Argumen Analogi: Argumen yang menurunkan konklusi atas dasar kemiripan karakteristik, pola, fungsi, atau hubungan unsur suatu objek yang disebutkan dalam asersi. Kemiripan ini merupakan hubungan konseptual bukan hubungan fisis atau keidentikan. Analogi ini memiliki kelemahan, karena bagaimanapun juga apa yang dianalogikan memiliki banyak kelemahan. Perbedaan yang melemahkan konklusi sering disembunyikan, padahal perbedaan sering lebih dominan daripada kemiripan.
Argumen Sebab Akibat: Argumen untuk mendukung bahwa perubahan faktor tertentu disebabkan oleh faktor yang lain. Kriteria penyebaban: Faktor sebab bervariasi dengan faktor akibat (efek), faktor sebab terjadi sebelum atau mendahului faktor akibat, tidak ada faktor lain selain faktor sebab yang diidenfikasi.
Kecohan (Fallacy)
Keyakinan semu atau keliru akibat orang terbujuk oleh suatu argumen yang mengandung catat (faulty) atau tidak valid. Orang dapat terkecoh akibat taktik membujuk selain dengan argumen yang valid.
Telah disinggung diatas, bahwa orang dapat mengecoh atau terkecoh karena: Strategem (kecohan yang bertujuan), salah nalar (reasoning fallacy), aspek manusia dalam berargumen.
Kecohan karena strategem:
•Persuasi taklangsung: strategem untuk meyakinkan seseorang akan kebenaran pernyataan bukan melalui argumen atau penalaran, tapimelalui cara-cara yang tidak berkaitan dengan validitas argumen. Contohnya dibidang periklanan. Untuk membujuk orang membeli produk, orang tidak diberi argumen mengapa produk itu berkualitas, tapi ditunjuki bahwa selebritis yang menggunakan produk itu.
•Membidik orangnya: strategem ini digunakan untuk melemahkan posisi atau pernyataan dengan menghubungkan pernyataan atau argumen dengan pribadi orang. Jadi yang dilawan orangnya, bukan argumennya. Taktik ini disebut argumentum ad hominem. Contohnya: Jangan menggunakan kurikulum itu karena yang mengembangkan adalah pengelola lama. (bukan permasalahan di kurikulumnya yang difokuskan, tapi orang yang mengembangkannya).
•Menyampingkan masalah: Strategem ini dilakukan dengan cara mengajukan argumen yang tidak bertumpu pada amsalah pokok atau dengan cara mengalihkan masalah ke masalah lain. Penyampingan masalah ini dilakukan dengan memberi penjelasan yang tidak menjawab masalah. Contohnya: Pembenahan istilah akuntansi tidak perlu dilakukan, karena dalam akuntansi yang penting kita tahu maksudnya.
•Misrepresentasi: Strategem digunakan biasanya untuk menyanggah atau menjatuhkan posisi lawan, dengan memutarbalikan atau menyembunyikan fakta baik secara halus maupun terang-terangan. Contohnya, Orang dari Partai A mengajukan argumen untuk mendukung kebijakan pemerintah yaitu, mengurangi anggaran pertahanan dan meningkatkan anggaran pendidikan. Lawan politiknya menyanggah dan menuduh bahwa Orang dari partai A ingin menghancurkan kekuatan militer negara.
•Imbauan cacah: Strategem ini digunakan untuk mendukung posisi bahwa banyak orang melakukan apa yang dikandung posisi tersebut. Sebagai contoh, suatu kelompok memegang posisi untuk membolehkan penaikan harga karena rekanan yang lain juga melakukan itu. Agar tidak terkecoh, orang harus memegang prinsip bahwa, suatu hal tidak menjadi benar lantaran banyak orang yang melakukannya. Contoh, banyak orang melakukan korupsi tidak membuat korupsi menjadi benar.
•Imbauan autoritas: Strategem ini digunakan untuk mendukung posisi dengan menggunakan autoritas. Dengan imbauan autoritas, orang berusaha meningkatkan daya bujuk suatu posisi dengan menunjukkan bahwa posisi tersebut dipegang oleh orang yang mempunyai autoritas dalam masalah bersangkutan tanpa menunjukkan bagaimana autoritas bernalar. Bila autoritas dan penalarannya memang layak , orang akan terbujuk ke arah yang benar. Tapi kalau autoritas dijadikan alat membujuk, maka kecohan yang terjadi. Contoh: Rakyat diminta untuk mengikuti kebijakan baru, karena yang membuat kebijakan adalah pemerintah. Contoh lain: menonjolkan jabatan dalam berargumen. Agar tidak terkecoh dalam strategem, beberapa prinsip diajukan Nickerson berikut dapat dijadikan dasar mengembangkan argumen atau penalaran:
• The fact that an authoritative person holds a particular view does not make that view correct.
• The fact that a highly knowledgeable individual holds a certain belief with respect to his particular area of knowledge should carry some weight.
• A belief is not necessarily right because it is held by an expert.
•Imbauan tradisi: Orang melakukan atau meyakini sesuatu karena begitulah yang dilakukan sejak lama. Strategem ini salah karena bisa saja ada cara baru yang lebih baik (secara rasional atau praktis). Contoh: sejak dulu kita sudah menggunakan istilah beban, kenapa harus diubah.
•Dilema semu: adalah taktik seseorang untuk mengaburkan argumen dengan cara menyajikan gagasannya dan satu alternatif lain kemudian mengkarakterisasi alternatif lain sangat jelek, merugikan, atau mengerikan sehingga tidak ada cara lain kecuali menerima apa yang diusulkan. Contohnya: “Kita harus menyetujui amandemen ini atau negara kita akan hancur.”
Dasar pikirannya adalah negara kita tidak boleh hancur, dan simpulannya maka kita harus menyetujui amandemen. Kecohan terjadi karena seakan-akan hanya ada dua pilihan, padahal kenyataanya ada beberapa alternatif lain yang lebih valid.
•Imbauan emosi: Daya bujuk argumen dicapai dengan cara membaurkan emosi dengan nalar (disebut confusing emotion with reason atau motive in place of support). Dengan taktik ini, emosi orang yang dituju diagitasi sehingga dia merasa tidak enak untuk tidak menerima argumen atau keyakinan. Dua strategem yang dapat digunakan untuk mencapai hal ini adalah imbauan belas kasih (appeal to pity) dan imabuan tekanan/kekuasaan (appeal to force).
Contoh imbauan belas kasih: orang memaksa kita untuk menyetujui sesuatu dengan menangis, menyatakan kalau kita tidak setuju dia akan menderita, atau menunjukkan penderitaannya agar kita setuju dengan argumennya.
Contoh imabuan tekanan: orang memaksa kita untuk menyetujui sesuatu dengan ancaman, menyatakan kalau kita tidak setuju kita akan menderita, atau menunjukkan penderitaan yang akan ditanggung bila kita tidak setuju.
Selain strategem, ada kecohan karena salah nalar. Salah nalar terjadi karena:
•Menyangkal anteseden atau menegaskan konsekuen: argumen valid bila menegaskan anteseden (modus ponens), atau menyangkal konsekuen (modus pollens). Contoh: Jika saya di Semarang, maka saya di Jawa Tengah. Saya di Semarang. Maka Saya di Jawa Tengah. (Jika A, maka B. A. Maka B) -Benar karena menegaskan anteseden. Menjadi salah bila: Saya di Semarang maka Saya di Jawa Tengah. Saya di Jawa Tengah (menegaskan konsekuen), maka saya di Semarang.
•Pentaksaan: Salah nalar dapat terjadi bila ungkapan dalam premis yang satu mempunyai makna yang berbeda dengan makna ungkapan yang sama dalam premis lainnya. Contoh (Nickerson): Nothing is better than eternal happines. A ham sandwhich is better than nothing. Konlusi: A ham sandwhich is better than eternal happiness. ini salah karena nothing dalam premis mayor berarti tidak ada satupun dari himpunan objek yang memenuhi syarat sehingga kebahagiaan abadi yang terbaik. Nothing dalam premis minor berarti, tidak tersedianya anggota lain dalam himpunan yang ada didalamnya.
•Overgeneralization: Salah nalar ini sering terjadi, yaitu melekatkan karakteristik sebagian kecil anggota ke seluruh anggota himpunan secara berlebihan. Contoh sudah disebutkan dibagian atas.
Aspek manusia dalam penalaran:
•Penjelasan sederhana: Rasionalitas menuntut penjelasan yang sesuai dengan fakta. Kebutuhan akan penjelasan terhadap apa yang mengusik pikiran merupakan fondasi berkembangnya ilmu pengetahuan. Namun kadang orang cukup dibuat puas dengan penjelasan sederhana yang pertama ditawarkan sehingga dia tidak berupaya untuk mengevaluasi secara saksama kelayakan penjelasan dan membandingkannya dengan penjelasan alternatif. Dengan kata lain, orang menjadi tidak kritis dalam menerima penjelasan.
•Kepentingan mengalahkan nalar: Hambatan untuk bernalar sering muncul akibat orang punya kepentingan tertentu yang harus dipertahankan. Kepentingan sering memaksa orang untuk memihak suatu posisi (keputusan) meskipun posisi (keputusan) tersebut sangat lemah dari segi argumen.
Dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi kepentingan untuk hidup (mendapatkan uang, kekuasaan, dan jabatan) digunakan untuk menghambat penalaran.
Dalam dunia akademik dan ilmiah, kepentingan untuk menjaga harga diri individual atau kelompok (walaupun semu) dapat menyebabkan orang (akademisi atau ilmuwan) berbuat yang tidak masuk akal.
Kebebasan akademik merupakan ciri penting lingkungan akademik yang kondusif untuk pengembangan pengetahuan dan profesi. Kebebasan akademik harus diartikan sebagai kebebasan untuk berbeda pendapat secara akademik yang memungkinkan akademisi berpendapat seacara terbuka. Sikap akademisi yang patut dihargai adalah kebersediaan untuk berargumen.
Sikap ilmiah menuntut akademisi untuk berani membaca dan memahami gagasan alternatif dan, kalau gagasan tersebut valid dan menuju ke perbaikan, bersedia untuk membawanya, bukan mengisolasinya.
keberanian dan kebersediaan seperti ini merupakan suatu ciri sikap ilmiah dan akademik yang sangat terpuji (respected).
Ini tidak berarti bahwa akademisi harus selalu setuju dengan suatu gagasan. Ketidaksetujuan dengan suatu gagasan (setelah berani membaca) merupakan sikap ilmiah asal dilandasi argumen yang bernalar dan valid.
Ketidakberanian dan ketidakbersediaan itulah yang merupakan sikap tidak ilmiah (akademik).
Sikap pakar dan akademisi yang tidak masuk akal tersebut, yang sering disebut sebagai sikap insulting the intelligence.
•Sindrom tes klinis: Ini menggambarkan bahwa seseorang yang merasa (bahkan yakin) bahwa terdapat ketidakberesan dalam tubuhnya dan dia juga tahu benar apa yang terjadi karena pengetahuannya tentang suatu penyakit. tetapi dia tidak berani untuk memeriksakan diri dan menjalani tes klinis karena takut bahwa dugaannya benar. Akhirnya orang ini tidak memeriksakan diri dan menganggap dirinya sehat.
•Merasionalkan daripada menalar: Bila terjadi keberpihakan, kepentingan, atau ketakritisan, orang terlanjur mengambil posisi dan ternyata posisi tersebut salah atau lemah, orang ada kalanya berusaha untuk mencari-cari justifikasi untuk membenarkan posisinya. Dalam hal ini, tujuan diskusi bukan lagi untuk mencari kebenaran atau validitas, tetapi untuk membela diri atau menutupi rasa malu. Bila hal ini terjadi, orang tersebut sebenarnya tidak lagi menalar (to reason) tetapi merasionalkan (to rationalize).
Sumber dan referensi :
http://rogonyowosukmo.wordpress.com/2009/12/04/apa-itu-penalaran-reasoning/
Mungkin beberapa dari kita masih belum memahami betul apa arti penalaran. Apakah orang yang salah nalar berarti orang bodoh? Tidak. Orang salah nalar bisa terjadi karena strategem (kecohan yang bertujuan tertentu), salah nalar (reasoning fallacy), atau salah nalar karena aspek kemanusiaan. Jadi, bedakan antara penalaran dan kebodohan.
Penalaran dari aspek teoritis dapat didefinisikan sebagai proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk dan mengevaluasi suatu keyakinan terhadap pernyataan atau asersi.
Tujuan dari penalaran adalah untuk menentukan secara logis dan objektif, apakah suatu pernyataan valid (benar atau salah) sehingga pantas untuk diyakini atau dianut.
Dari definisi dan tujuan, dapat dilihat bahwa penalaran digunakan untuk mengevaluasi apakah suatu pernyataan itu dapat diyakini atau dianut. Atau kembali secara literal, kita melihat alasan (reason) dibalik suatu pernyataan.
Disini akan saya kaitkan secara langsung dengan contoh. Pemimpin teroris mengatakan bahwa orang-orang diluar dari orang golongannya adalah kafir dan halal untuk dibunuh. Kalau kita tanya ke pemimpin teroris, kenapa Pak pimpinan teroris? Jawabannya, karena tertulis bahwa yang diluar jalan kita, adalah kafir. Atau mungkin jawaban lainnya, saya ini pimpinan yang dipilih oleh kekuasaan yang lebih tinggi. Kalian bisa percaya kekuasaan tertinggi, maka kalian harusnya bisa percaya kata-kata saya.
Contoh diatas menjelaskan bahwa pemimpin teroris membuat pernyataan. Pernyataan ini digunakan untuk membentuk keyakinan. Pernyataan dari pemipin teroris beserta alasannya perlu kita kaji dengan menggunakan penalaran. Penalaran akan menentukan apakah pernyataan dari pimpinan teroris ini layak untuk kita yakini atau tidak.
Sekarang kita mulai melakukan pembahasan mengenai penalaran.
Bila dilihat dari definisi teori, maka ada 3 komponen pembentuk penalaran yaitu, pernyataan (asersi), keyakinan, dan argumen. Pernyataan merupakan masukan (input) dari penalaran. Argumen merupakan proses dari penalaran, yaitu proses saling menginferensikan pernyataan-pernyataan yang ada. Kemudian, keyakinan bahwa pernyataan konklusi valid adalah keluaran (output) dari penalaran.
Argumen merupakan serangkaian asersi beserta inferensi atau penyimpulan yang terlibat didalamnya, merupakan poin penting dalam penalaran. Argumen ini merupakan bukti rasional akan kebenaran suatu pernyataan. Berarti, argumen berfungsi untuk memelihara, membentuk, atau mengubah keyakinan.
Diatas terlihat bahwa argumen terdiri dari asersi. Asersi adalah penegasan tentang sesuatu hal atau realitas yang dinyatakan dalam bentuk kalimat atau ungkapan. Asersi ini harus dikuantifikasikan untuk membatasi asersi universal/umum menjadi spesifik dan menentukan hubungan inklusi, eksklusi, saling-isi.
Pengkuantifikasian ini adalah: sedikit, banyak, tak semua, beberapa, semua
Penyajian asersi akan lebih baik bila berdasar bentuk daripada makna. Contoh berdasar makna: Semua dosen adalah pendidik. Berdasar makna, orang akan melihat makna asersi daripada bentuknya. Contoh berdasar bentuk: semua A adalah B. Bila berdasar bentuk, A atau B kita ganti dengan apapun, asersi itu akan tetap benar.
Hubungan asersi:
Asersi inklusi: semua A adalah B, tidak semua B adalah A
Asersi ekslusi: tidak satupun A adalah B, tidak satupun B adalah A
Asersi saling isi: Beberapa B adalah A (bila menggunakan diagram venn, akan lebih terlihat bahwa Ada himpunan B dan A, dimana ada potongan antara B dan A)
Bila menggunakan himpunan, maka akan terlihat perbedaan antara bersertifikat akuntan publik dan akuntan publik bersertifikat. Asersi pertama menunjukkan bahwa ada himpunan orang-orang bersertifikat, salah satunya adalah akuntan publik (himpunan bersertifikat dokter, bersertifikat dosen, bersertifikat guru, bersertifikat akuntan publik). Asersi kedua berarti ada himpunan akuntan (akuntan, akuntan publik, akuntan pajak), dan dalam akuntan publik, ada akuntan publik bersertifikat dan akuntan publik tidak bersertifikat. Disini terlihat bahwa beda asersi, maknanya bisa berbeda.
Ada beberapa jenis asersi, yaitu asumsi, hipotesis, dan pernyataan fakta. Asumsi adalah asersi yang kebenarannya tidak diketahui, tetapi kita yakini benar. Hipotesis adalah asersi yang kebenarannya belum teruji. Pernyataan adalah fakta, adalah asersi yang kebenarannya jelas diketahui. Fungsi asersi ini adalah untuk pernyataan premis atau konklusi.
Keyakinan adalah kebersediaan untuk menerima bahwa suatu asersi adalah benar tanpa memperhatikan apakah argumen valid atau tidak atau apakah asersi tersebut benar atau tidak.
Properitas keyakinan terdiri dari:
•Keadabenaran: suatu keyakinan ‘proper’ bila ada kebenarannya
•Bukan pendapat: suatu keyakinan harus bukan merupakan pendapat seorang (paling tidak pendapat seorang yang sudah disetujui bersama-sama)
•Bertingkat: ada tingkatan keyakinan (tidak yakin-yakin sekali)
•Berbias: keyakinan bisa berbeda-beda tiap orang, dipengaruhi berbagai hal (contoh, keyakinan bahwa ajaran suatu agama paling benar)
•Bermuatan nilai: keyakinan dilekati nilai-nilai (etika, moral, agama)
•Berkekuatan: kekuatan keyakinan orang.
•Veridikal: kesesuaian keyakinan dengan kenyataan.
•Berketertempaan: keyakinan harus tidak mudah untuk diubah.
Argumen terdiri dari Argumen deduktif, dan nondeduktif (induktif, analogi, sebab akibat).
Argumen deduktif adalah argumen yang simpulannya diturunkan dari serangkaian asersi umum yang disepakati atau dianggap benar (disebut premis baik major maupun minor). Pada umumnya berstruktur silogisma sehinga disebut argumen logis (logical argument).
Contoh: Semua binatang menyusui berparu-paru. Kucing adalah binatang menyusui. Kesimpulannya, kucing berparu-paru.
Kriteria kebenaran argumen deduktif ini adalah kelengkapan, kejelasan (apakah artinya jelas), validitas (konklusi mengikuti premis), keterpercayaian (premis dapat dipercaya).
Kebenaran konklusi dalam argumen deduktif adalah kebenaran logis bukan kebenaran empiris (realitas).
Kriteria kebenaran logis: semua premis benar, konklusi mengikuti semua premis, semua premis dapat diterima.
Argumen induktif adalah argumen yang simpulannya merupakan perampatan atau generalisasi dari keadaan atau pengamatan khusus sebagai premis. Generalisasi menjadikan argumen induktif merupakan argumen ada benarnya (plausible argument) bukan argumen pasti benarnya atau logis (logical argument).
Contoh argumen induktif: Kebanyakan orang Jawa Timur berani bicara. Wardoyo orang Jawa Timur. Kesimpulannya, Wardoyo berani berbicara. Argumen ini boleh jadi benar atau belum tentu benar (untuk meyakinkan, perlu dilekati confidence level, misalnya 95%).
Argumen Analogi: Argumen yang menurunkan konklusi atas dasar kemiripan karakteristik, pola, fungsi, atau hubungan unsur suatu objek yang disebutkan dalam asersi. Kemiripan ini merupakan hubungan konseptual bukan hubungan fisis atau keidentikan. Analogi ini memiliki kelemahan, karena bagaimanapun juga apa yang dianalogikan memiliki banyak kelemahan. Perbedaan yang melemahkan konklusi sering disembunyikan, padahal perbedaan sering lebih dominan daripada kemiripan.
Argumen Sebab Akibat: Argumen untuk mendukung bahwa perubahan faktor tertentu disebabkan oleh faktor yang lain. Kriteria penyebaban: Faktor sebab bervariasi dengan faktor akibat (efek), faktor sebab terjadi sebelum atau mendahului faktor akibat, tidak ada faktor lain selain faktor sebab yang diidenfikasi.
Kecohan (Fallacy)
Keyakinan semu atau keliru akibat orang terbujuk oleh suatu argumen yang mengandung catat (faulty) atau tidak valid. Orang dapat terkecoh akibat taktik membujuk selain dengan argumen yang valid.
Telah disinggung diatas, bahwa orang dapat mengecoh atau terkecoh karena: Strategem (kecohan yang bertujuan), salah nalar (reasoning fallacy), aspek manusia dalam berargumen.
Kecohan karena strategem:
•Persuasi taklangsung: strategem untuk meyakinkan seseorang akan kebenaran pernyataan bukan melalui argumen atau penalaran, tapimelalui cara-cara yang tidak berkaitan dengan validitas argumen. Contohnya dibidang periklanan. Untuk membujuk orang membeli produk, orang tidak diberi argumen mengapa produk itu berkualitas, tapi ditunjuki bahwa selebritis yang menggunakan produk itu.
•Membidik orangnya: strategem ini digunakan untuk melemahkan posisi atau pernyataan dengan menghubungkan pernyataan atau argumen dengan pribadi orang. Jadi yang dilawan orangnya, bukan argumennya. Taktik ini disebut argumentum ad hominem. Contohnya: Jangan menggunakan kurikulum itu karena yang mengembangkan adalah pengelola lama. (bukan permasalahan di kurikulumnya yang difokuskan, tapi orang yang mengembangkannya).
•Menyampingkan masalah: Strategem ini dilakukan dengan cara mengajukan argumen yang tidak bertumpu pada amsalah pokok atau dengan cara mengalihkan masalah ke masalah lain. Penyampingan masalah ini dilakukan dengan memberi penjelasan yang tidak menjawab masalah. Contohnya: Pembenahan istilah akuntansi tidak perlu dilakukan, karena dalam akuntansi yang penting kita tahu maksudnya.
•Misrepresentasi: Strategem digunakan biasanya untuk menyanggah atau menjatuhkan posisi lawan, dengan memutarbalikan atau menyembunyikan fakta baik secara halus maupun terang-terangan. Contohnya, Orang dari Partai A mengajukan argumen untuk mendukung kebijakan pemerintah yaitu, mengurangi anggaran pertahanan dan meningkatkan anggaran pendidikan. Lawan politiknya menyanggah dan menuduh bahwa Orang dari partai A ingin menghancurkan kekuatan militer negara.
•Imbauan cacah: Strategem ini digunakan untuk mendukung posisi bahwa banyak orang melakukan apa yang dikandung posisi tersebut. Sebagai contoh, suatu kelompok memegang posisi untuk membolehkan penaikan harga karena rekanan yang lain juga melakukan itu. Agar tidak terkecoh, orang harus memegang prinsip bahwa, suatu hal tidak menjadi benar lantaran banyak orang yang melakukannya. Contoh, banyak orang melakukan korupsi tidak membuat korupsi menjadi benar.
•Imbauan autoritas: Strategem ini digunakan untuk mendukung posisi dengan menggunakan autoritas. Dengan imbauan autoritas, orang berusaha meningkatkan daya bujuk suatu posisi dengan menunjukkan bahwa posisi tersebut dipegang oleh orang yang mempunyai autoritas dalam masalah bersangkutan tanpa menunjukkan bagaimana autoritas bernalar. Bila autoritas dan penalarannya memang layak , orang akan terbujuk ke arah yang benar. Tapi kalau autoritas dijadikan alat membujuk, maka kecohan yang terjadi. Contoh: Rakyat diminta untuk mengikuti kebijakan baru, karena yang membuat kebijakan adalah pemerintah. Contoh lain: menonjolkan jabatan dalam berargumen. Agar tidak terkecoh dalam strategem, beberapa prinsip diajukan Nickerson berikut dapat dijadikan dasar mengembangkan argumen atau penalaran:
• The fact that an authoritative person holds a particular view does not make that view correct.
• The fact that a highly knowledgeable individual holds a certain belief with respect to his particular area of knowledge should carry some weight.
• A belief is not necessarily right because it is held by an expert.
•Imbauan tradisi: Orang melakukan atau meyakini sesuatu karena begitulah yang dilakukan sejak lama. Strategem ini salah karena bisa saja ada cara baru yang lebih baik (secara rasional atau praktis). Contoh: sejak dulu kita sudah menggunakan istilah beban, kenapa harus diubah.
•Dilema semu: adalah taktik seseorang untuk mengaburkan argumen dengan cara menyajikan gagasannya dan satu alternatif lain kemudian mengkarakterisasi alternatif lain sangat jelek, merugikan, atau mengerikan sehingga tidak ada cara lain kecuali menerima apa yang diusulkan. Contohnya: “Kita harus menyetujui amandemen ini atau negara kita akan hancur.”
Dasar pikirannya adalah negara kita tidak boleh hancur, dan simpulannya maka kita harus menyetujui amandemen. Kecohan terjadi karena seakan-akan hanya ada dua pilihan, padahal kenyataanya ada beberapa alternatif lain yang lebih valid.
•Imbauan emosi: Daya bujuk argumen dicapai dengan cara membaurkan emosi dengan nalar (disebut confusing emotion with reason atau motive in place of support). Dengan taktik ini, emosi orang yang dituju diagitasi sehingga dia merasa tidak enak untuk tidak menerima argumen atau keyakinan. Dua strategem yang dapat digunakan untuk mencapai hal ini adalah imbauan belas kasih (appeal to pity) dan imabuan tekanan/kekuasaan (appeal to force).
Contoh imbauan belas kasih: orang memaksa kita untuk menyetujui sesuatu dengan menangis, menyatakan kalau kita tidak setuju dia akan menderita, atau menunjukkan penderitaannya agar kita setuju dengan argumennya.
Contoh imabuan tekanan: orang memaksa kita untuk menyetujui sesuatu dengan ancaman, menyatakan kalau kita tidak setuju kita akan menderita, atau menunjukkan penderitaan yang akan ditanggung bila kita tidak setuju.
Selain strategem, ada kecohan karena salah nalar. Salah nalar terjadi karena:
•Menyangkal anteseden atau menegaskan konsekuen: argumen valid bila menegaskan anteseden (modus ponens), atau menyangkal konsekuen (modus pollens). Contoh: Jika saya di Semarang, maka saya di Jawa Tengah. Saya di Semarang. Maka Saya di Jawa Tengah. (Jika A, maka B. A. Maka B) -Benar karena menegaskan anteseden. Menjadi salah bila: Saya di Semarang maka Saya di Jawa Tengah. Saya di Jawa Tengah (menegaskan konsekuen), maka saya di Semarang.
•Pentaksaan: Salah nalar dapat terjadi bila ungkapan dalam premis yang satu mempunyai makna yang berbeda dengan makna ungkapan yang sama dalam premis lainnya. Contoh (Nickerson): Nothing is better than eternal happines. A ham sandwhich is better than nothing. Konlusi: A ham sandwhich is better than eternal happiness. ini salah karena nothing dalam premis mayor berarti tidak ada satupun dari himpunan objek yang memenuhi syarat sehingga kebahagiaan abadi yang terbaik. Nothing dalam premis minor berarti, tidak tersedianya anggota lain dalam himpunan yang ada didalamnya.
•Overgeneralization: Salah nalar ini sering terjadi, yaitu melekatkan karakteristik sebagian kecil anggota ke seluruh anggota himpunan secara berlebihan. Contoh sudah disebutkan dibagian atas.
Aspek manusia dalam penalaran:
•Penjelasan sederhana: Rasionalitas menuntut penjelasan yang sesuai dengan fakta. Kebutuhan akan penjelasan terhadap apa yang mengusik pikiran merupakan fondasi berkembangnya ilmu pengetahuan. Namun kadang orang cukup dibuat puas dengan penjelasan sederhana yang pertama ditawarkan sehingga dia tidak berupaya untuk mengevaluasi secara saksama kelayakan penjelasan dan membandingkannya dengan penjelasan alternatif. Dengan kata lain, orang menjadi tidak kritis dalam menerima penjelasan.
•Kepentingan mengalahkan nalar: Hambatan untuk bernalar sering muncul akibat orang punya kepentingan tertentu yang harus dipertahankan. Kepentingan sering memaksa orang untuk memihak suatu posisi (keputusan) meskipun posisi (keputusan) tersebut sangat lemah dari segi argumen.
Dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi kepentingan untuk hidup (mendapatkan uang, kekuasaan, dan jabatan) digunakan untuk menghambat penalaran.
Dalam dunia akademik dan ilmiah, kepentingan untuk menjaga harga diri individual atau kelompok (walaupun semu) dapat menyebabkan orang (akademisi atau ilmuwan) berbuat yang tidak masuk akal.
Kebebasan akademik merupakan ciri penting lingkungan akademik yang kondusif untuk pengembangan pengetahuan dan profesi. Kebebasan akademik harus diartikan sebagai kebebasan untuk berbeda pendapat secara akademik yang memungkinkan akademisi berpendapat seacara terbuka. Sikap akademisi yang patut dihargai adalah kebersediaan untuk berargumen.
Sikap ilmiah menuntut akademisi untuk berani membaca dan memahami gagasan alternatif dan, kalau gagasan tersebut valid dan menuju ke perbaikan, bersedia untuk membawanya, bukan mengisolasinya.
keberanian dan kebersediaan seperti ini merupakan suatu ciri sikap ilmiah dan akademik yang sangat terpuji (respected).
Ini tidak berarti bahwa akademisi harus selalu setuju dengan suatu gagasan. Ketidaksetujuan dengan suatu gagasan (setelah berani membaca) merupakan sikap ilmiah asal dilandasi argumen yang bernalar dan valid.
Ketidakberanian dan ketidakbersediaan itulah yang merupakan sikap tidak ilmiah (akademik).
Sikap pakar dan akademisi yang tidak masuk akal tersebut, yang sering disebut sebagai sikap insulting the intelligence.
•Sindrom tes klinis: Ini menggambarkan bahwa seseorang yang merasa (bahkan yakin) bahwa terdapat ketidakberesan dalam tubuhnya dan dia juga tahu benar apa yang terjadi karena pengetahuannya tentang suatu penyakit. tetapi dia tidak berani untuk memeriksakan diri dan menjalani tes klinis karena takut bahwa dugaannya benar. Akhirnya orang ini tidak memeriksakan diri dan menganggap dirinya sehat.
•Merasionalkan daripada menalar: Bila terjadi keberpihakan, kepentingan, atau ketakritisan, orang terlanjur mengambil posisi dan ternyata posisi tersebut salah atau lemah, orang ada kalanya berusaha untuk mencari-cari justifikasi untuk membenarkan posisinya. Dalam hal ini, tujuan diskusi bukan lagi untuk mencari kebenaran atau validitas, tetapi untuk membela diri atau menutupi rasa malu. Bila hal ini terjadi, orang tersebut sebenarnya tidak lagi menalar (to reason) tetapi merasionalkan (to rationalize).
Sumber dan referensi :
http://rogonyowosukmo.wordpress.com/2009/12/04/apa-itu-penalaran-reasoning/
Langganan:
Postingan (Atom)